Minggu, 24 Oktober 2010

Karakteristik Industri Kulit Di Indonesia

Sekitar sepuluh tahun yang lalu industri kulit dan produk kulit Indonesia sebenarnya bukanlah tergolong industri yang terbelakang jika dibandingkan dengan negara lain. Bahkan para produsen kulit dan produk kulit di dalam negeri meyakini bahwa industri kulit yang sekarang berkembang di Cina, Pakistan, dan sejumlah negara lain di Asia sebagian ada yang meniru gaya industri kulit dan produk kulit Indonesia.


Keberadaan Akademi Teknologi Kulit dan Balai Penelitian dan Pengembangan Kulit di Yogyakarta membuktikan, bahwa para pengusahan pendahulu telah meletakan dasar-dasar yang kuat bagi pengembangan industri kulit dan produk kulit. Keberadaan dua lembaga itu semula diharapkan agar industri kulit dan produk kulit mengalami kemajuan yang berarti.

Pengembangan industri kulit yang dimulai pada tahun 1970 an telah membuktikan, kalau industri kulit dan produk kulit di dalam negeri telah mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pertumbuhan di sektor hulu misalnya, dari 37 pabrik berskala besar dan menengah pada tahun 1975 menjadi 112 pada tahun 1995.

Pada masa itu muncul sentra-sentra industri kulit seperti di Magetan, Garut (Jawa Barat) dan Madiun (Jawa Timur). Pada masa yang bersamaan pabrik berskala kecil juga tumbuh dari sekitar 200 pabrik menjadi 500 pabrik dan kapasitas terpasangpun meningkat dari 40.000 ton menjadi 70.000 ton per tahun.

Pada masa itu juga teknologi konvensional mulai ditinggalkan dan diganti dengan teknologi yang cukup maju. Pada masa itu pengusaha kulit dan produk kulit di dalam negeri tidak ragu untuk memesan berbagai keperluan industri kulit. Pewarnaan kulit yang semula dilakukan secara tradisional diganti dengan mesin pewarnaan yang otomatis, yang bisa membuat warna lebih merata, dan campuran warna yang lebih stabil sesuai dengan yang trend yang disukai.

Sebagai gambaran, Italia yang tidak menghasilkan kulit mentah, namun bisa menggerakkan bisnis yang beorientasi industri berbasis kulit. Keberhasilan ini ternyata peran sertanya pemerintah Itali yang memberikan kontribusi dalam bentuk infrastrukturnya, yakni memproduksi mesin, dan peralatan penyamakan kulit dengan nilai investasi sekitar $ 875 juta Euro atau sekitar Rp 7.9 triliun. Dari bisnis yang hanya merupakan salah satu lini dari industri kulit dan produk kulit itu ternyata melibatkan sebanyak 400 usaha kecil dan menengah, yang sebagian besar dari UKM ini berada di daerah Vigenano, Tuskany, dan Marches. Di sekitar Padua dan Lombardy terdapat pabrik pembuat mesin dan peralatan untuk produksi sepatu kulit, sepatu olahraga dan mesin pembuat kulit jadi.

Indonesia yang penduduknya senang makan daging atau penghasil hewan potong yang cukup potensil justru industri kulit dan produk kulitnya sulit berkembang, sehingga hal ini menimbulkan tanda tanya, padahal kalangan produsen kulit dan produk kulit dunia, melihat Indonesia masih merupakan pasar potensial bagi mereka. Menurut Direktur Hubungan Internasional Association of Italion Manufactures of Manchinery and Accessories for Footwear Leather Goods and Tanneris (ASSOMAC) Mr. Mario Pucci mengatakan, kendati pasar Cina dan Vietnam makin bagus, namun mereka masih melihat pasar Indonesia memiliki prospek yang bagus. Respon bahwa industri kulit dan produk kulit Indonesia memiliki prospek yang baik antara lain, dibangunnya Indonesian Footwear Service Center (IFSC) di Sidoarjo Jawa Timur.

IFSC yang mulai dioperasikan tahun 2003 dan pendiriannya didukung kerjasama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Republik Italia ini, nantinya akan berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pelatihan, pusat informasi sosialisasi informasi pasar, teknologi, persaingan usaha dan lain-lain, pusat penelitian, pengembangan dan inovasi di bidang industri persepatuan serta pelayanan konsultasi dan pemecahan masalah yang dihadapi oleh industri persepatuan di Indonesia khususnya sepatu kulit. Naskah Kerjasama berkaitan dengan pendirian IFSC ini ditandatangani oleh Direktur Jenderal Industri dan dagang Kecil Menengah Deperindag, Agus Tjahajana (mewakili Pemerintah Indonesia) bersama duta besar Rep. Italia ,Fancesco M.Greco (mewakili Pemerintah Italia), pada tanggal 30 Januari 2003 di Jakarta.

Dalam naskah kerjasama tersebut tertuang kesepakatan bahwa Pemerintah Italia menyediakan pinjaman lunak sebesar 10 miliar Lira (5.550.000 Euro) dana ini akan dipergunakan untuk pengadaan mesin peralatan IFSC, peralatan Test untuk Balai Besar Litbang Industri Kulit, Karet dan Plastik Yogyakarta, TOT calon instruktur IFSC ke Italia, training pengusaha IKM ke Italia dan bantuan tenaga ahli.

Sedangkan kontribusi pemerintah Indonesia dalam hal ini seluruhnya senilai Rp 10.35 miliar dengan rincian, pemerintah pusat menyediakan biaya operasional selama tiga tahun pertama, dan Pemda Jawa Timur dan Sidoarjo akan membiayai pembangunan Gedung IFSC berikut asrama dan fasilitas lainnya. Pengusaha UKM akan menyediakan lahan seluar 5000 M2. Namun kenyataannya sampai saat realisasinya belum terlaksana karena masih ada beberapa kendala yang bersifat teknis.

Secara umum bahwa karakteristik industri kulit dan produk kulit ini antara lain sebagai berikut :

1. Padat Karya, bahwa industri kulit dan produk kulit memerlukan tenaga kerja trampil dan ahli dali perkulitan
2. Padat modal, artnya bahwa dalam pendiriannya industri kulit dan produk kulit mmerlukan modal yang cukup besar untuk pembelian mesin-tenaga , tanah dan SDM yang ahli dalam perkulitam.
3. Padat Teknologi, artinya bahwa dalam proses produksinya kulit dan produk kulit memerlukan beberapa tahapan seperti dalam proses penyamakan, proses pewarnaan, proses penghalusan, dan proses dalam finising yang kesemuanya merupakan tahapan yang menggunakan tekologi.
4. Industri kulit dan produk kulit termasuk industri yang tidak ramah lingkungan, terutama dampak lingkungan yang disebabkan dalam proses penyamakan menjadi kulit jadi. Dimana prosesnya memnggunakan bahan bahan kimia yang cukup berbahaya.
5. Dilihat dari karakternya kapasitas industri kulit dan produk kulit terdiri dari industri kecil, indusri menengah dan besar. Untuk kapasitas produksi IKM rata-rata sebesar 250.000 Sq ft per tahun sedangkan industtri besar rata-rata sebesar 20.000.000 Sq ft per tahun.


Sumber :
http://binaukm.com/2010/07/karakteristik-industri-kulit-di-indonesia/
28 Juli 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar