Minggu, 24 Oktober 2010

Industri Kulit Butuh Perlindungan

60 Persen Obat-obatan Penyamak Berasal dari China

Garut, Kompas - Industri kulit yang menyerap banyak tenaga kerja harus meningkatkan kualitas dan desain agar bersaing dengan produk sejenis dari China dalam perdagangan bebas. Tanpa perlindungan dari pemerintah dan dukungan perbankan, upaya tersebut sulit terwujud.


Demikian benang merah yang dilontarkan berbagai kalangan terkait dalam industri penyamakan kulit dan produk garmen kulit di Sukaregang, Kabupaten Garut, Senin (15/2).

Ketua Asosiasi Penyamak Kulit Indonesia Kabupaten Garut Jajang Hermawan, mengatakan, perdagangan bebas dengan China jelas akan berdampak pada industri penyamakan kulit dan usaha garmen berbahan baku kulit. Pelaku usaha kulit di Tanah Air diperkirakan sulit bersaing dengan China yang tidak hanya memproduksi barang jadi berbahan baku kulit, tetapi juga kulit setengah jadi, obat kimia penyamakan kulit, serta mesin untuk menyamak kulit.

Menurut Jajang, produk kulit dalam negeri akan bisa bersaing dengan produk serupa dari China apabila kualitas produk ditingkatkan, pemasaran diperluas, dan permodalan diperkuat. "Pelaku industri kulit selama ini agak mengabaikan kualitas karena tujuan pemasaran produk mereka hanya pasar lokal," katanya.

Upaya meningkatkan kualitas, lanjutnya, memerlukan peran pemerintah. Langkah yang bisa diambil, di antaranya, menerapkan teknologi penyamakan kulit, inovasi desain, dan penyediaan mesin.

Perbankan juga diharapkan bisa mendukung industri kulit dengan memberikan skema kredit berbunga ringan yang idealnya 10-12 persen. "Selama ini pengusaha kulit yang besar masih menggunakan bunga komersial yang tinggi kalau mau meminjam uang ke bank. Sementara penyamak kecil hanya modal dengkul. Mereka ini bagaimana mau bersaing dengan produk China," ujarnya.

Dari China

Pemilik toko obat kimia Suka Setra, Gemi Rustami, menambahkan, penyamak kulit membutuhkan ratusan jenis obat kimia untuk penyamakan. Sekitar 60 persen obat kimia tersebut berasal dari China, sedangkan sisanya dari Eropa, Thailand, dan Singapura.

Ketergantungan penyamak kulit terhadap obat kimia impor ini menyebabkan biaya produksi tinggi sehingga harga jual produk kulit pun tidak kompetitif. Sebab, sekitar 32 persen biaya produksi merupakan biaya untuk membeli obat kimia.

Penyamak kulit sulit melepaskan ketergantungan ini karena harga obat kimia buatan dalam negeri justru lebih mahal dibandingkan dengan obat kimia dari China. Harga 1 kilogram obat kimia dalam negeri bisa dua kali lipat dari harga obat yang sama produksi China.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah Kabupaten Garut Ruchiat mengatakan, pemerintah daerah baru akan mengumpulkan berbagai pemangku kepentingan bidang industri di Kabupaten Garut guna membahas upaya perlindungan produk unggulan daerah ini dalam pasar bebas dengan China, Selasa ini.

Ruchiat menyatakan, kulit tersamak dan produk kulit menjadi komoditas andalan Kabupaten Garut. Sektor usaha ini menyerap tidak kurang dari 3.000 tenaga kerja. (adh)

Sumber :
Harian Kompas, Selasa 16 Februari 2010, dalam :
http://www.ahmadheryawan.com/lintas-jabar/ekonomi-bisnis/9058-industri-kulit-butuh-perlindungan.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar