Selasa, 02 Juli 2013

Penggunaan Klor pada Industri Hilir



            

Chlorine Klor tergolong dalam grup unsur halogen (pembentuk garam)dan diperoleh dari garam klorida dengan mereaksikan zat oksidator atau lebih sering dengan proses elektrolisis. Merupakan gas berwarna kuning kehijauan  dan dapat bersenyawa dengan hampir semua unsur. Pada suhu 10oC, satu volume air dapat melarutkan 3.10 volume klor, sedangkan pada suhu 30oC hanya 1.77 volume.
            Klor digunakan secara luas dalam pembuatan banyak produk sehari-hari. Klor digunakan untuk menghasilkan air minum yang aman hampir di seluruh dunia. Bahkan, kemasan air terkecil pun sudah terklorinasi. Pada air baku, klorin digunakan sebagai penjernih dan anti bakteri khususnya bagi PDAM dan air kolam renang. Namun, penggunaan klorin tetap harus dijaga pada ambang batas teretentu.
            Klor juga digunakan secara besar-besaran pada proses pembuatan kertas, zat pewarna, tekstil, produk olahan minyak bumi, obat-obatan, antseptik, insektisida, makanan, pelarut, cat, plastik, dan banyak produk lainnya.
            Kebanyakan klor diproduksi untuk digunakan dalam pembuatan senyawa klorin untuk sanitasi, pemutihan kertas, desinfektan, dan proses tekstil. Lebih jauh lagi, klor digunakan untuk pembuatan klorat, kloroform, karbon tetraklorida, dan ekstraksi brom.
            Kimia organik sangat membutuhkan klor, baik sebagai zat oksidator maupun sebagai  subtitusi, karena banyak sifat yang sesuai dengan yang diharapkan dalam senyawa organik ketika klor mensubtitusi hidrogen, seperti dalam salah satu bentuk karet sintetis.
            Klor juga berfungsi pada pembuatan soda kaustik (NaOH) dengan proses elektrolisa garam(NaCl) menjadi gas klorin(Cl2), gas hidrogen(H2) dan NaOH. (itu kalau produknya dipisahkan). Kalau produknya dicampur saja maka akan menghasilkan sodium hypochloride atau sodium chlorate.
Di industri klor alkali sendiri ada 3 jenis proses elektrolisa brine (larutan garam):
1. diapragm cell
2. mercury cell
3. membrane cell

Selain itu,  klor digunakan untuk pembuatan pemutih pada pakaian yitu natrium hipoklorit. Natrium hipoklorit pemutih diperkenalkan ke Amerika pada tahun 1909 dan dijual dalam wadah baja, maka dalam botol kaca. Pada awal 1960-an, pengenalan tabung plastik membawa kemasan alternatif lebih murah, ringan, dan nonbreakable. Ini mengurangi biaya transportasi dan melindungi keselamatan pekerja yang terlibat dalam pengiriman dan penanganan. Selain itu, plastik tebal tidak memungkinkan sinar ultraviolet untuk mencapai pemutih, yang meningkatkan stabilitas kimia dan efektivitasnya. Dalam beberapa tahun terakhir, bagaimanapun, wadah plastik telah menjadi keprihatinan lingkungan karena dari waktu yang diperlukan bahan untuk terurai di TPA. Banyak perusahaan yang bergantung pada kemasan plastik, termasuk produsen pemutih, mulai mengurangi jumlah plastik dalam kemasan mereka atau untuk menggunakan plastik daur ulang. Pada awal 1990, Clorox diperkenalkan pasca-konsumen resin (PCR) pada kemasannya. Botol-botol yang lebih baru adalah perpaduan antara perawan high density polyethylene (HDPE) dan plastik daur ulang 25%, terutama dari botol. Industri manufaktur pemutih datang di bawah api selama tahun 1970 ketika masyarakat menjadi khawatir tentang efek bahan kimia rumah tangga terhadap kesehatan pribadi. Dioksin, produk sampingan karsinogenik dari manufaktur kimia, sering ditemukan dalam produk industri digunakan untuk pemutih kertas dan kayu. Dalam bentuk akhirnya botol nya, natrium hipoklorit pemutih umum tidak mengandung dioxin karena klorin harus dalam bentuk gas untuk dioxin ada. Namun, gas klorin dapat terbentuk ketika pemutih datang ke dalam kontak dengan asam, bahan dalam beberapa toilet mangkuk pembersih, dan label pada pemutih mengandung peringatan khusus terhadap kombinasi tersebut.
Klor juga dapat digunakan pada pengolahan limbah sianida misalnya pada industry metal plating. Namun tidak dianjurkan, karena menurut penelitian klor berpotensi menghasilkan trihalometan (THMs) yang bersifat kasinogenik dan mutagenic (Surusi et  al.,  2008).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar