Minggu, 24 Oktober 2010

Indonesia Masih Impor Bahan Baku Industri Kimia

ndonesia hingga saat ini masih mengimpor komponen bahan baku industri petrokimia yang diprediksi menjadi satu industri yang akan bertumbuh.

"Jadi kami (Kemenperin) menetapkan ada sembilan kluster industri unggulan. Hanya ada beberapa kendala yaitu beberapa komponen produksi masih impor yang utama. Misalnya Nafta," kata Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat di Jakarta, kemarin.


Menurutnya, pihaknya akan mengambil langkah antisipasi untuk menekan impor komponen bahan baku. "Itu yang mau disikapi dengan strategi membuat industrinya di Indonesia. Kalau refinary itu kan akan menghasilkan Nafta. Jadi itu yang akan dilajukan di Cilegon, Tuban, dan Bontang," ujarnya.

Hal senada diungkapkan Direktur Industri Kimia Hulu Direktorat Jenderal Industri Agro dan Kimia Kemenperin Alexander Barus. Menurutnya, total produksi dari masing-masing tiga refinary tersebut adalah 300 ribu barel per hari.

"Kita belum ada refinary petrokimia yang solid di Indonesia. Kita merencanakan untuk merubah model yang selama ini tidak berintegrasi karena masih mengimpor Nafta. Pokoknya bahan baku yang di hulu kita impor sehingga tidak bisa bersaing. Maka dari itu, kita berencana untuk membangun tiga refinary di Tuban, Cilegon, Bontang. Masing-masing total produksinya 300 ribu barel per hari. Masing-masing investasinya USD4 miliar hingga USD5 miliar. Tetapi membangun investasi kan enggak gampang. Paling siap itu di Cilegon. Lahan sudah, pelabuhan tinggal diperluas," kata Alex.

Namun, lanjutnya, masih terdapat kendala yang menghambat pembangunan refinary. Dia mengatakan bila saat ini permasalahannya adalah mencari crude oil, karena dari dalam negeri tidak dimungkinkan.

"Kita tidak bisa mengkomit karena belum ada crude oil. Sedangkan Pertamina sendiri juga masih mengimpor cruide oil. Crude oil sendiri kita ambil dari kerja sama dengan Iran, Nigeria, dan negara G8 lainnya. Minggu sore saya ke Mesir untuk pertemuan negara G8 membicarakan suplai crude oil, yang penting untuk di Cilegon saja dulu. Kita harapkan misalnya Iran mau share juga di refinary ini. Sehingga dia bisa bertanggung jawab menghidupkan crude oil di refinary selanjutnya," paparnya.

Alex menuturkan, sudah ada beberapa investor dalam negeri yang akan dan telah melakukan investasi. Adapun untuk investor Petrokimia dalam negeri sudah siap, seperti Candra Asri, Tripolyta, Titan. Share-nya antara dalam dan luar negeri yang penting prinsipnya majority.

Di sisi lain, Dirjen Kerja sama Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Gusmardi Bustami menyatakan, perjanjian-perjanjian kerja sama internasional yang sudah diteken Indonesia tidak berpengaruh negatif pada industri petrokimia.

"Industri kimia sudah masuk dalam schedule komitmen perjanjian-perjanjian yang sudah diteken oleh Indonesia. 2010 sudah bisa bertumbuh positif," papar Gusmardi.

Gusmardi mengakui, selama ini, tidak ada hambatan yang memperlambat pertumbuhan industri petrokimia. "Hambatan saya rasa tidak ada. Ekspor nya bertumbuh 8-10 persen tahun lalu, tahun ini saya rasa bisa sama. Makin banyak kegiatan industri di dalam negeri, tentu impor bahan baku kimia bertambah besar karena industri ini kan memproses lebih lanjut produk produk jadi lainnya, termasuk memproduksi bahan baku di dalam negeri. Itu akan terjadi dengan sendirinya," tukasnya.

Hidayat menuturkan, sedang menghadapi AFTA, bea masuk (BM) untuk industri petrokimia sudah dinolkan. "Tahun 2010 sebetulnya sudah zero tarif. Kalau itu relatif enggak ada masalah," kata Hidayat.

Sementara itu, Alex mengungkapkan, negara Asean lain juga sedang mengembangkan industri petrokimia. "Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam akan mengembangkan industri petrokimia. Mereka melihat Indonesia sebagai pasar. Makanya mereka mengembangkan kapasitas. Ini kerja sama bersaing," tukas Alex.

Dalam hal, dia menambahkan bila ini bukan merupakan kerja sama yang menyerang. "AFTA kita ambil positifnya. Dalam jangka pendek kita mengalami sedikit distorsi. Tetapi pada dasarnya ini jangan terjadi. Kita harus mempersiapkan diri agar bertahan dan masuk pasar orang," pungkas Alex.(Sandra Karina/Koran SI/ade)

Sumber :
http://economy.okezone.com/read/2010/04/01/320/318616/indonesia-masih-impor-bahan-baku-industri-kimia
2 April 2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar